NEWS: Keresahan Santri Selama Pembelajaran Jarak Jauh dari Dalam Pesantren

[Artikel-News]
KERESAHAN SANTRI SELAMA PEMBELAJARAN JARAK JAUH DARI DALAM PESANTREN

    Saat ini terdapat setidaknya 4 juta santri dan santriwati di Indonesia (kemenag.go.id). Lembaga pesantren yang sudah diperbolehkan Kemenag melakukan pembelajaran tatap muka dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan telah banyak yang mulai melakukan pembelajaran. 

    Namun, disamping melakukan pembelajaran wajib yang ada di pesantren itu sendiri, bagaimana para santri ini melakukan kegiatan sekolah formal? Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menggunakan gawai memang telah diterapkan untuk mengatasi masalah terkait belajar-mengajar selama pandemi ini. Namun bagaimana dengan anak-anak pesantren yang notabenenya jauh dan bahkan dilarang dalam menggunakan gawai di pesantren selama ini. 

    Rupanya, hal baru seperti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para santri termasuk menyulitkan. Seperti sistem pembelajaran yang tidak mendukung antara pesantren dengan sekolah formal. Sebagaimana yang disampaikan oleh Nurul Izza Afkarina, siswi MA Almaarif Singosari sekaligus santriwati di PPQ Nurul Huda Malang. 

    “Kalau di sini, meski sistem pembalajaran dilaksanakan dari jarak jauh, pondok sendiri tetap tidak memperbolehkan membawa hp. Jadi biasanya dari sekolah sendiri yang berbesar hati, setiap hari tertentu guru-gurunya berkunjung ke pondok untuk menyampaikan materi,” ungkapnya. 

    Berbeda dengan Najwa Chilyatul, siswi dari MAN 3 Jombang sekaligus santri di PP. Al-ikhlas Tambakberas yang di pesantrennya diperbolehkan membawa gawai, tetapi tetap saja terdapat halangan selama mengikuti PJJ sekolah dari pesantren. 

    “Di sini PJJ boleh pakai HP atau laptop. Sesuai kebutuhan saja. Untuk internetnya difasilitasi pondok dengan wifi. Tetapi karena wifi di sini dipakai anak sepondok, jadinya lemot. Padahal di sini kita gak boleh pakai kartu/paketan sendiri. Jadi kalau ada zoom sering keluar sendiri saat sinyalnya jelek. Sering ketinggalan pelajaran dan tugas tidak tersampaikan dengan baik juga jadinya.” 




    Selain dari sistem yang beragam. Berbagai kesulitan juga kerap dijumpai oleh para santri ini selama mengikuti PJJ dari dalam pesantren. Seperti yang disampaikan Hanum, siswi di MAN 3 Jombang sekaligus santri di PP Darul Ulum Jombang. 

    “Yang utama itu PJJ membuat waktu sekolah formal jadi tidak tentu. Jadinya saya sering ketinggalan kegiatan pesantren dan tidak bisa mengikuti dengan maksimal. Kegiatan pondok seperti mengaji jadi ketinggalan.” 

    Sedangkan Fitria Romadhona, siswi SMA Islam Almaarif dan santri di PP Darussalam Lawang menuturkan, 

“Kendala jelas banyak. Yaitu seperti resiko tidak paham pada pelajaran. Belum lagi uang bulanan terpakai banyak untuk beli paket data. Padahal sehari-harinya sendiri sudah harus berhemat.” 

    Dari berbagai permasalahan yang diungkapkan para santri di atas, dapat dilihat banyak kendala yang muncul dari sistem Pembelajaran Jarak Jauh yang selama ini tengah berlangsung. Para murid yang harus melakukan PJJ dari dalam pesantren mengalami kesulitan yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak tinggal di pesantren pada umumnya. Jika dibiarkan, dapat terjadi kesenjangan materi yang didapat dan menurunkan pencapaian akademik sekolah dari anak-anak di pesantren ini. 

    Akan lebih baik ke depannya, jika dari pihak sekolah formal dan pihak pesantren melakukan komunikasi dan bisa bekerja sama. Agar pembelajaran di dua lembaga pendidikan ini dapat berjalan beriringan dengan baik. Sehingga anak-anak didiknya bisa tetap berpretasi dimanapun juga. 

    “Harapannya, semoga seiring berjalannya waktu pandemi ini segera hilang dan aktivitas bisa berjalan seperti biasa. Amiin.” Ungkap Fitria Romadhona di akhir wawancara. 


Komentar

Postingan Populer