FEATURES: Tak Habis Aspirasi Walau Dihantam Pandemi

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7FJ0SKUblA_CdqF5k38oEQXSAlTslaTeUqzxy_aMOhqbfbn-hyPFVrfte2yLBs6n3rvgKLMWw6Wxrk0Qf_vAfuCXtvrRD_7a_7Ax8C8DXDkRcadyYpicOpRdkEfFIq4zkc9mjXWn1hxC0/s320/WhatsApp+Image+2020-11-12+at+11.53.45.jpeg

(sumber: dokumentasi pribadi Ninik)

TAK HABIS ASPIRASI WALAU DIHANTAM PANDEMI

            Negeri ini memang sedang dihantam pandemi. Segala seluk kehidupan terkena dampak daripadanya. Tak terkecuali di sektor pendidikan. Dalam hal ini, kita memang tak dapat mengelak segala krisis yang terjadi, namun kita bisa tetap berjuang untuk tidak terlarut di dalamnya.

             Disinilah peran seorang pengajar yang memiliki jiwa tangguh dibutuhkan. Untuk tetap membantu memajukan pendidikan Indonesia, seorang guru yang baik diperlukan untuk membantu terus membawa pendidikan Indonesia meski di masa sulit-sulitnya. Seperti yang dilakukan oleh Ninik Kusumawati.

            Ninik, guru kelas 1 di sekolah dasar ini turut merasakan dampak dari pandemi di lingkungan pendidikan. Sejak pemerintah mengumumkan untuk menutup segala aktivas pendidikan secara langsung di bulan Maret lalu, Ninik tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa harus ditutup? Lalu bagaimana dengan pendidikan muridnya?

            Akan tetapi, ia lantas tak cukup hanya prihatin atau berpangku asa. Di tengah segala keterbatasan, ia terus berjuang. Bagaimana caranya, pendidikan ini, anak-anak muridnya, harus tetap menerima pembelajaran yang baik sebagaimana pembelajaran di kelas sebelumnya. Batas-batas kesulitan tersebut harus didobrak

            Memang pada awalnya terasa sulit. Perbedaan antara pembelajaran di sekolah sebagaiman biasa dengan pembelajaran dari rumah memang terasa jelas bedanya. Jika sebelumnya ia sebagai seorang guru dapat memantau  langsung perkembangan anak muridnya, membimbing mereka satu-persatu, namun pembelajaran saat ini sungguh berbeda. Ia hanya dapat menatap wajah-wajah lugu mereka dari balik layar. Mengetahui perkembangan muridnya pun hanya sebatas bertukar kabar dari para orang tua di gawai.

            Untuk menerjang dampak hadirnya pandemi dalam pendidikan inilah, strategi-strategi untuk mengajar dari rumah pun  ia siapkan. Selain melakukan Kegiatan belajar mengajar via daring dan tugas biasa , agar murid-muridnya tidak meras jenuh, ia juga sesekali memberikan materi berupa video pada murid-muridnya.  Ninik akan menunjukkan sebuah video menyanyi, lantas ia akan  menugaskan mereka untuk ikut menyanyikannya pula. Tentu, bagi murid-muridnya yang masih kecil, hal ini akan sangat menarik. Mereka bisa bebas menyanyi bahkan ikut menari, daripada diberi penugasan kertas seperti biasa.

            Tak cukup sampai di situ. Agar pembelajaran selama pandemi ini tetap bisa terlewatkan dengan baik, ia sadar butuh adanya sebuah kerjasama. Lantas ia pun mengumpulkan para wali murid dalam sebuah grup di aplikasi pesan. Grup ini ia harap dapat menjadi wadah saling berbagi aspirasi antara kedua belah-pihak. Ia harap, agar mereka semua termasuk dirinya sendiri dapat melewati mas sulit ini bersama-sama.

            Namun, semua itu ternyata belumlah cukup. Terkadang, ada pula keluhan yang masih terlontar dari para wali murid. Para orangtua itu menyampaikan  keluh-kesahnya pada Ninik. Mengenai bagaimana anak-anak mereka yang jadi lebih malas dengan pembelajaran dari rumah. Orang tua di rumah jadi kewalahan mengajari anaknya sendiri. Tugas-tugas yang diberikan dari sekolah  pun, terkadang malah sering mereka sendiri sebagai orang tua yang mengerjakannya. Anak-anak ini mengaku  tak paham dengan materi yang diberikan selama pembelajaran daring. Emosi yang terkadang menyelimuti orang tua dalam menghadapi ‘kenakalan’anaknya inilah, yang sempat membuat anak-anak takut dibimbing oleh orang tuanya sendiri di rumah.

            Ninik tetap mendengarkan segala keluhan yang ada. Untuk membantu mengatasi keadaan inilah, mau bagaimana lagi. Pendidikan secara langsung memang dibutuhkan rasanya. Terlebih pada muridnya sendiri yang masih duduk di kelas 1, usia yang belum tentu semuanya bisa langsung menjadi mandiri. Mereka membutuhkan bimbingan dan perhatian nyata secara langsung.

            Oleh karena itu, dalam sela-sela pengajaran darirngnya, Ninik bahkan menyempatkan waktu untuk mempersiapkan pembacaran secara langsung. Luring. Ia merelakan rumahnya sendiri digunakan sebagai ‘gedung sekolah’. Demi pembelajaran yang baik bisa tetap terlaksana. Setiap satu minggu sekali, ia dengan ikhlas menyiapkan kebutuhan-kebutuhan belajar untuk muridnya di rumahnya sendiri. Sukarela ia membuka pintu. Agar pendidikan negeri ini tetap bisa maju melawan pandemi. Tak lupa, dengan tetap mengikuti anjuran pemerintah tentunya. Melaksanakan protokol kesehatan.

            Semua ini memang sulit. Namun bagi Ninik, lantas kita bisa apa. Prihatin memang baik. Tetapi aksi nyata juga perlu dilakukan. Tetap berusaha dan berdoa kepada Tuhan adalah usaha terbaik yang bisa dilakukan oleh kita sebagai umat-Nya. Meski membutuhkan kesabaran dan  ketelatenan ekstra dalam mengajar, apalagi di masa sulit seperti ini, ia yakin. Apapun yang dilaksanakan dengan senang hati dan ikhlas, akan  terasa ringan dan membawa kebahagian tersendiri.

            Namun, semua kesulitan yang ada sebab pandemi ini ternyata tetap ia pandang dalam kacamata yang baik.  Ia yakin. Setiap koin punya dua sisi. Semua hal tentu ada baik dan buruknya tersendiri. Seperti dampak pandemi dalam pendidikan ini. Dengan belajar dari rumah, pembelajaran memang kurang dapat terlaksana. Namun lihat kenyataanya, waktu orangtua dan anak jauh lebih berkesan pada saat ini. Hadirnya orangtua dalam membantu anaknya belajar di rumah, tentu akan membuat anak merasakan betapa penting dan berharganya peran sebuah keluarga. Rasa kasih sayang, saling mendukung,  dan kerjasama akan lebih terjalin antar anggota keluarga.

            Dari sinilah, bagi Ninik, kita hanya perlu melihat kebaikan dalam setiap kesulitan. Tidak terlanjur tenggelam sibuk dalam keluhan. karena setiap kejadia, pasti ada hikmahnya.


Komentar

Postingan Populer