ARTIKEL: Area of High Culture dan Perkembangannya di Masa Kini
Area of High Culture dan Perkembangannya di Masa Kini
Di tengah perkembangan dunia dan teknologinya yang terus berkembang dengan cepat, banyak perubahan yang terjadi di tiap
masanya. Banyak aspek ikut berkembang dan berubah menyesuaikan keadaaan dan manusia di zamannya. Salah satu hal
yang turut berkembang dan mengalami
perubahan ialah aspek kebudayaan. Kebudayaan
sendiri, menurut Kathy
S. Stolley adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan manusia.
Manusia pasti menciptakan kebudayaan. Dan kebudayaan tercipta dari keberadaan manusia.
Dalam hal kebudayaan ternyata sesuatu juga tidak berjalan
sesederhana itu. Dalam kehidupan
manusia dan segala perilaku dan sifat alaminya, kebudayaan yang asalnya murni dapat diciptakan dan dinikmati oleh setiap individu,
telah sejak lama terdapat ‘sekat
pembatas’ di dalamnya.
Lahir dari keinginaan dan asumsi relasi
kekuasaan antara kelompok yang merasa dominan terhadap kelompok yang dirasa
subordinat, Bentuk-bentuk kebudayaan
telah lama dianggap memiliki
‘kelas’-nya masing-masing. Dari seorang pemikir
Frankfurt, Thodor Adorno, dalam bukunya yang berjudul The Culture Industry, kebudayaan dibagi
menjadi dua. Yakni ada high culture
(budaya kelas tinggi) dan low culture (budaya kelas rendah) atau yang sering disebut juga sebagai popular
culture. Perbedaan adanya konsep high culture dan low culture sendiri bahkan telah ada sejak zaman Yunani kuno.
Fokus membahas terkait high culture langsung- dalam
kebudayaan jenis ini, high culture
ialah kebudayaan yang dianggap tinggi, mengacu
pada intelegensia dan aristrokat. Baik dalam
karya seni maupun produk budayanya langsung. Jenis budaya ini dianggap elite
dan hanya kaum tertentu yang bisa
menikmatinya. High culture selalu disangkut pautkan pada hal yang menyangkut akan pengetahuan, pola pikir (kognisi), blueprint, dan nilai-nilai khusus
yang membentuk perilaku suata
manusia dalam komunitas. Hal ini dapat dilihat secara nyata dari bagaimana akses untuk menciptakan produk
budaya di dalamnya serta menikmati bentuknya
yang lebih susah dan mahal didapatkan daripada bentuk perwujudan dari
popular culture itu sendiri. Secara
garis besar, bentuk atau area dari high culture ini bisa disebutkan menjadi 6 bagian. Yaitu antara lain ada Classical
Music, Balet and Professional Dancing, Theater, Art Movies, Art, serta Literatur.
Classical Music, atau musik jenis klasik seringkali diidentikkan dengan musik yang memang
ditujukkan untuk kaum elite sejak
dalu. Classical musik merupakan jenis musik yang tidak semua
orang bisa menikmatinya. Jenis-jenis musik yang digolongkan sebagai musik klasik, yaitu seperti jazz, classical,
atau bluegrass adalah sesuatu yang jarang orang awam ketahui dan nikmati daripada jenis music popular seperti
RnB, Hiphop, ataupun
music country. Ke-elitan dan ‘keagungan’ yang diciptakan
dalam classical music dapat dilihat secara nyata sejak dulu. Pertunjukkan-pertunjukkan music classic seperti
orkestra contohnya, ialah sesuatu yang
tidak mudah untuk diakses oleh sembarang orang sebagaimana konser music pop
pada umumnya. Butuh biaya lebih dan koneksi
khusus untuk ikut menikmatinya bersama
para kaum ‘borjuis’ lain dalam sebuah aula megah
yang mewah. Namun, stereotip tak tersentuh dari classical music kini dapat dikatakan tidak berlaku lagi. di
tahun yang semakin modern ini, segala
hal dapat diakses lebih mudah dan menghilangkan segala batasan. Termasuk dalam
hal menikmati jenis musik.
Musik-musik klasik seperti orkestra kini tidak hanya ditujukkan atau bisa dinikmati oleh kaum kelas tinggi. Di era globalisasi sekat perbedaan semakin
tipis. Hal ini dapat
dibuktikan dengan contohnya, dari industri orkestra di tanah air Indonesia
sendiri, ada Erwin Gutawa Orchestra
(EGO) yang menjalankan produksi musiknya tidak terbatas pada golongan elit sosial. Di era yang sudah
maju dan global, orkestra Erwin Gutawa menciptakan karya seni musik yang mengalami komodifikasi untuk bisa memenuhi
dan dinikmati semua konsumen pendengarnya.
Kemudian ada lingkup high culture Balet and Professional Dancing. Sama seperti jenis high culture sebelumnya, balet and professional dancing
lain ialah jenis tarian yang khususnya hanya
bisa ditampilkan di tempat-tempat tertentu.
Yaitu seperti panggung
opera.
Tarian
yang tergolong high culture seperti balet sendiri memang awal tercipta dari dan
untuk kelas bangsawan di zaman dahulu. Namun di era modern kini, batasan seni tari
untuk bangsawan dan orang biasa telah
pudar. Seni balet kini dapat dinikmati dan ikut dipelajari dnegan mudah bagi semua orang. Contohnya,
seperti sanggar balet Rossana Ballet School
di kota Bandung. Balet yang dulu dikenal
dengan kekhususan dan keseriusan dalam tiap geraknya, kini diajarkan secara
menyenangkan oleh sanggar Rosana Ballet yang mengusung tema serius namun FUN dalam pelajarannya. Hal ini dilakukan
untuk mematahkan pandangan
masyarakat yang masih banyak takut
belajar balet karena
stereotip elitnya yang tak tersentuh.
Lalu ada high culture Theater.
Dalam perkembangannya sendiri, seni theater telah lama ada sejak zaman Yunani kuno. Theater biasa digunakan untuk
menampilkan kisah kepahlawanan atau
dewa-dewa. Oleh karena itu, sejak lama panggung teater telah dianggap sebagai
bagian dari kebudayaan high culture yang hanya bisa dinikmati orang tertentu. Namun
di tahun seperti sekarang, teater telah menjadi bagian umum dari
masyarakat. Siapapun bisa menikmati dan mempelajarinya. Bahkan
tidak asing kita dengar, banyak
klub-klub teater lokal
yang berdiri di tiap lembaga pendidikan seperti sekolah atau
universitas. Seni teater dengan segala
isinya yang rumit namun indah telah menarik perhatian banyak manusia sehingga menghilangkan bias batasan penikmatnya.
Contohnya, baru-baru ini, pertunjukkan teater Rain Internasional Festival 2022 yang sukses digelar, memiliki salah
satu penampil teater dari klub lokal daerah,
yaitu kelompok Teater 16 yang berasal dari Lombok, Indonesia, yang membawakan cerita khas lokal di panggung
teater international.
Tidak jauh dari Theater, selanjutnya ada jenis high culture
Art Movies yang juga termasuk dalam seni pentas. Art movies atau art film,
ialah suatu film kesenian yang diciptakan bukan untuk tujuan komersil seperti film atau movie pada
umumnya. Art movie dibuat dan dikreasikan
untuk tujuan karya seni serius dan alasan estetika. Substansi dalam film jenis
art movie juga seringkali ‘tidak biasa’ dan simbolis sehingga
sukar dipahami orang awam (Random House, 2010). Karena isinya yang tidak biasa, art movie
juga lebih susah diakses orang biasa.
Movie jenis ini lazimnya hanya diputar dalam teater khusus atau sebuah
festival. Namun diera sekarang, art
movie tidak menjadi sesuatu yang terbatas. Semua orang bisa dengan mudah menikmatinya jika ia mau. Contohnya, art movie terbaru dari
Indonesia, garapan dari Laksmi
Pamuntjak, “Aruna dan Lidahnya” yang pernah tayang di bioskop konvensional yang mudah diakses dan dijangkau semua jenis masyarakat.
Beralih ke masalah art
atau kesenian. Seni-seni rupa klasik memasuki masa puncak maraknya di era Renaisans. Banyaknya tokoh
legenda yang berbakat, banyak mempengaruhi referensi seni yang termasuk
dalam seni high culture di masa kini. Yaitu seperti nama Michaelangelo, Raphael, sampai yang paling terkenal, Leonardo da
Vinci dengan lukisan Mona Lisa-nya.
Karya-karya klasik seperti itu, sayangnya masih tergolong hal yang sulit dijangakau secara langsung karena
prestisenya yang tinggi. Namun, produk-produk seni dari jenis klasik seperti itu tetap dapat
dinikmati secara ‘tidak
langsung’ oleh khalayak
luas melalui media online atau internet. Kita bisa
menyaksikan seni dari layar kaca secara bebas di zaman sekarang. bahkan bentuk pameran seni telah banyak juga yan dilakukan secara daring. Contohnya pameran seni yang baru dilaksanakan
OPPO Art Jakarta Virtual di tahun 2020 kemarin.
Terakhir, ada high culture dalam bentuk literature. Literature sebagai high culture di sini tidak hanya dikelompokkan menjadi
sesuatu yang ‘sulit
dijangkau’ karena sulitnya
n untuk mendapatkannya. Namun hal ini juga
terkait isi/subtansi yang ada dalam literatur itu sendiri. Dalam kelas high culture-nya, literatur
yang tergolong diciptakan dalam jenis ini memang sengaja diciptakan oleh penulisnya dengan bahasa yang tinggi dan
sulit dicerna orang awam. Buktinya,
banyak kini karya literature klasik yang beredar di pasaran namun masih sedikit peminat dan popularitasnya seperti karya
Jane Austin atau George Orwell dibanding karya
literature popular
seperti novel/komik biasanya.
Hal ini menunjukkan bahwa hasil budaya/seni high culture tidak selamanya memiliki
label elitnya karena murni ciptaan kaum elite sosial. Namun, hal lain seperti perbedaan jangkauan pengetahuan dan
kemampuan dari masing- masing orang itu sendiri yang kadang menciptakan perbedaan itu sendiri.
Pada akhirnya, high culture memanglah suatu jenis budaya yang memiliki kekhasannya sendiri. Namun, di perkembangan zaman
yang semakin maju dan global ini tidak menutup
kemungkinan batas antara apa yang disebut
high culture yang sering diidentikkan dengan kaum elit tersebut bisa dinikmati oleh segala kalangan masyarakat.
Keterbukaan dan kemauan dari masing-masing
individulah yang pada akhirnya menentukan apa yang bisa dan layak untuk mereka dapatkan sendiri.


Komentar
Posting Komentar